Kamis, 01 Maret 2012

signaling teori (teori akuntansi positif)


1.   Teori Signal (Signaling Theory)
            Menurut Hapyani P, N, yang dikutip dari Ross,[1] dalam membangun signaling teori berdasarkan adanya assimetric information antara well-informed maneger dan poo-informed stockholder. Teori ini berdasarkan pemikiran bahwa menejer akan mengumumkan kepada investor ketika mendapatkan informasi yang baik, bertujuan menaikan nilai perusahaan, namun ivestor tidaka akan mempercayai tersebut, karena menejer merupakan interest parti. Solusinya perusahaan bernialai tinggi akan berusaha melaukan signaling pada financial policy mereka yang memakan biaya besar sehingga tiadak adap ditiruoleh perusahaan yang memiliki nialai lebih rendah.

            Signal adalah proses yang memakan biaya berupa deadweight costing, bertujuan untuk menyakinkan investor tentang nilai peruahaan. Signal yang baik adalah yang tidak dapat ditiru oleh perusahaan lain yang memeiliki nilai lebih redah, karena faktor biaya.[2]

            Salah satu contoh yang diberikan oleh Ross adalah tingkat laveragge perusahaan, yaitu perusahaan yang besar akan membuat insentif yang mendorong mereka mengambil laveragge tinggi. Hal ini tidak akan dapat diikuti oleh perusahaaan yang lebih kecil, karena mereka akan lebih rentan mengalami kebangkrutan. Hal ini akan menciptakan separating equilibrium yaitu dimana perusahaan yang memiliki nilai perusahan yang lebih tinggi akan menggunakan lebih banyak hutang dan perusahaan yang memiliki nilai yang lebih rendah akan lebih banyak menggunakan equity.
            Teori ini akan mengungkapkan bahwa investor dapat membedakan antara perusahaan yang memiliki nilai tinggi dengan perusahaan yang memiliki nilai rendah dengan mengobservasi kepemilikan struktur pemodalannya serta menandai valuasi tinggi untuk perusahaan yang hightly levered. Ekuilibrium stabil karena perusahaan bernilai rendah tidak dapat meniru perusahaan yang lebih tinggi.
            Kelebihan teori ini adalah kemampuan menjelaskan mengapa terjadi peningkatan harga saham sebagai tanggapan terhadap peningkatan financial leverage. Kelemahan dari model ini adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan hubungan kebalikan antara profitabilitas dan laveragge. Kelemahan lain adalah tidak dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan dan nilai intangible asset tinggi harus menggunakan lebih banyak hutang dari pada perusahaan yang mature (tangible asset tinngi) yang tidak menggunakan hutang, akan tetapi didalam teori diperlukan untuk mengurangi efek dari ketidaksimetrisan informasi.


[1] Hapyani, P, N. Pengujian Teori Static Teori Struktur Modal, Jurnal riset akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2009, p.24
[2] Ibid, p.28

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar